elang brontok – Raptor Indonesia
 

Tag: elang brontok

Elang Brontok

| Leave a comment

Berukuran besar 51–82 cm ,rentang sayap 100–160 cm, bertubuh ramping.
Sayap sangat lebar, ekor panjang berbentuk bulat, jambul sangat pendek. Terdapat fase gelap, pucat, dan peralihan. Fase gelap: seluruh tubuh coklat gelap dengan garis hitam pada ujung ekor, terlihat kontras dengan bagian ekor lain yang coklat dan lebih terang. Burung muda juga berwarna gelap. Fase terang: tubuh bagian atas coklat abu-abu gelap, tubuh bagian bawah putih bercoret-coret coklat kehitaman memanjang, setrip mata dan kumis kehitaman


Seekor Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus), siap dilepas ke alam bebas setelah menjalani proses rehabilitasi selama 4 tahun di Wildlife Rescue Centre (WRC) Jogja – YKAY diberi penanda sayap dan satellite tracking/ TRIBUNJOGJA.COM / Singgih Wahyu

 

Kepala Wira tertutup kain putih, ketika cincin dan penanda sayap dipasang di badan dan sayap, akhir Februari lalu. Suara melengking dan agresif, ketika tim dokter memasangkan satelit pelacak (satellite tracking) di tubuhnya. Wira, adalah elang brontok (Nisaetus cirrhatus) yang telah empat tahun– sejak 18 November 2013—masuk perawatan dan rehabilitasi di Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta (YKAY), Kulonprogo.

Minggu pagi, 25 Februari, Wira kembali ke alam bebas di Taman Hutan Rakyat (Tahura) Bunder, di Gunungkidul, Yogyakarta. Jauh hari sebelumnya, Paguyuban Pengamat Burung Jogjakarta, Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta dan YKAY sudah lebih dahulu memastikan habtat Wira, baik suhu, cukup pakan dan tutupan pohon masih baik.

Dokter hewan YKAY, Irhamna Putri Rahmawati kepada Mongabay mengatakan, kondisi Wira baik dan sehat. Tak ada penyakit berbahaya, dan siap dilepasliarkan. “Dari cek kesehatan yang kami lakukan, hasil cukup baik, negatif dari penyakit berbahaya “, katanya kepada Mongabay..

Dokter hewan Muhammad Tauhid, dari Departemen Fisiologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada (UGM) mengatakan, pada pelepasliaran kali ini dilakukan pemasangan tracking, untuk mengumpulkan data spesies elang ini.

Alat bekerja dengan cara mengirimkan data melalui satellite ke server. Data yang diperoleh dari satellite tracking antara lain ketinggian jelajah, wilayah jelajah, kecepatan terbang, dan suhu lingkungan. Alat ini gunakan baterai tenaga surya hingga dapat bertahan lama, dua sampai tiga tahun.

elang brontok_raptor indonesia

Paska dilepasliarkan, Wira masih terpantau di kawasan Tahura Bunder, Playen, Gunung Kidul (05/03/2018)/ Photo: Asman Adi Purwanto

“Selama mendapatkan sinar matahari yang cukup, data bisa diperoleh. Data dapat diunduh melalui movebank.org dengan akun dan password tertentu,” kata Tauhid.

Satellit, katanya, merupakan pemasangan kedua setelah sebelumnya pada elang Jawa lepas liar di Gunung Picis, Ponorogo, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. Satelit ini merupakan kerja sama antara Fakultas Kedokteran Hewan UGM dengan Martin Wikelski dari Max Planck Institute for Ornitology, Jerman.

Junita Parjanti, Kepala Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta, mengapresiasi, kerja sama lintas lembaga konservasi dalam upaya konservasi satwa. Elang brontok, katanya, salah satu jenis elang dilindungi UU dan Peraturan pemerintah soal pengawetan jenis tumbuhan dan satwa.

“Semoga Wira dapat bertahan dan menemukan pasangan hingga dapat menambah elang liar di alam,” katanya.

Wiratno, Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengatakan, percepatan pelepasliaran satwa dilindungi ke habitat akan terus dilakukan, termasuk elang.

Elang, katanya, bagian dari ekosistem sehat di masa lalu, tetapi sekarang banyak problem seperti pemeliharaan, perdagangan dan penembakan. Di Yogyakarta, katanya, banyak penggunaan senapan angin untuk berburu.

“Saya imbau masyarakat tak gunakan senapan angin dan tak memelihara burung-burung dilindungi UU.”

Saat ini, katanya, ada ribuan satwa liar diperjualbelikan melalui jaringan internet. KLHK akan bekerja sama dengan Facebook Indonesia, untuk memblokir akun-akun yang dicurigai melakukan transaksi satwa dilindungi. Mengatasi hal ini, katanya, perlu dukungan segala lapisan masyarakat.

Gunawan dari Yayasan Konservasi Elang Indonesia mengatakan, sebelum elang lepas liar ada masa habituasi untuk memberi kesempatan mereka beradaptasi dengan calon lingkungan baru.

Paska dilepasliarkan, Wira masih terpantau di kawasan Tahura Bunder, Playen, Gunung Kidul (05/03/2018)/ Photo: Asman Adi Purwanto

Secara umum, katanya, Tahura Bunder dengan tempat rehabilitasi hampir sama, hingga habituasi tak membutuhkan waktu lama.

 

Artikel ini telah tayang di mongabay.co.id dengan judul ” Kini Wira Hidup Bebas di Bunder ”  http://www.mongabay.co.id/2018/03/21/kini-wira-hidup-bebas-di-hutan-bunder/ ” 

Penulis: Tommy Apriando

Elang Brontok Dilepasliarkan di Hutan Bunder

| Comments Off on Elang Brontok Dilepasliarkan di Hutan Bunder

Elang brontok terpantau sesaat setelah pelepasliaran. Posisinya masih belum jauh dari lokasi kandang habituasi/ Foto: Aghnan P/KPB Bionic

Berita dari harianmerapi.com

WONOSARI (MERAPI) – Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) melepasliarkan seekor Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus) di Stasiun Flora Fauna Taman Hutan Raya Bunder, Playen, Gunungkidul Minggu (25/2). Elang jantan berusia 6 tahun yang diberi nama Wira tersebut, sebelumnya menjalani proses rehabilitasi sejak tahun 2013 di Wildlife Rescue Centre (WRC) Yogyakarta dan Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta (YKAY).

“Pengawasan pada habitat elang ini dengan menggunakan Global Positioning System ( GPS) yang dipasang di tubuh elang,” kata Kepala Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta, Junita Parjanti, Minggu (25/2) .

Pihaknya mengapresiasi kerjasama lintas lembaga konservasi yang ada di Yogyakarta dalam upaya konservasi satwa dilindungi dan merupakan kali kedua kalinya dilakukan Tim Gabungan (Timgab) Pelepasliaran Elang terkoordinasi secara bersama-sama, mulai dari cek medisnya, persiapan lapangannya termasuk survei habitat, pembangunan kandang dan lainnya untuk pelepasliaran ini. Sebelumnya 25 Januari lalu secara bersama-sama juga telah melepasliaran Elang-ular Bido(Spilornis cheela) dan Alap-alap Sapi (Falco moluccensis) di kawasan Jatimulyo, Kulonprogo, Yogyakarta. Sebelum dilepasliarkan satwa ini cukup aktif setelah dipindahkan dari tempat rehabilitasi. “Aktivitas pergerakan elang selama di kandang habituasi bagus, aktif kemudian respon terhadap pakan hidup juga baik,”imbuhnya.

Untuk wilayah Gunungkidul, Populasi di beberapa lokasi Kecamatan Tepus, Hutan Wonosadi, Ngawen; Panggang, Mangunan, Bantul burung elang brontok digunakan sebagai indikator ekosistem, asumsinya bisa bertahan di sana dan masih cukup bagus. Sementara, Direktur Jenderal (Dirjen) Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Wiratno mengatakan pelepasliaran ditujukan karena elang berhak hidup di ekosistem dan merupakan bagian dari sistem di masa lalu, tetapi sekarang banyak problem pemeliharaan di masyarakat, penembakan hewan. “Kita mengimbau masyarakat tidak menggunakan senapan angin, dan tidak memelihara burung-burung yang dilindungi,”terangnya. (Pur)